Jumat, 22 September 2017

Jumat, September 22, 2017


Keraton Kanoman, malam ini dipenuhi oleh warga masyarakat yang datang dari berbagai daerah di Cirebon untuk saksikan pembacaan Babad Cirebon, Jumat (22/9).

Pembacaan Babad Cirebon merupakan tradisi turun-temurun yang setiap tahunnya selalu diselenggarakan oleh Kesultanan Kanoman setiap tahun baru Islam 1 Muharram. Nantinya Babad Cirebon ini akan di bacakan dalam bahasa Cirebon oleh Pangeran Kumisi dihadapan Sultan, Keluarga, Walikota, Forkompinda dan seluruh tamu undangan juga masyarakat Cirebon di Bangsal Prabayaksa.


Dalam Babad Cirebon, nantinya akan diceritakan sejarah singkat Cirebon. Yang mana, lebih dari 7 Abad lalu, pangeran Walangsungsang dan ratu Rarasantang, keduanya merupakan putra dan putri prabu Siliwangi dari kerajaan Padjadjaran, dengan suka rela memeluk agama Islam.

Pangeran Walangsungsang yang dianugerahi gelar kertajaan Pangeran Cakrabuana menerima titah untuk melakukan proses dimulainya "Babad Cirebon".



Pangeran Walangsungsang juga dikenal dengan nama Pangeran Kian Santang, bersama ratu Rarasantang melakukan ibadah haji ke tanah suci Mekkah. Dalam perjalanan, Ratu Rarasantang dipersunting dan dijadikan istri raja Khute dari Mesir sehingga tidak pulang ke Cirebon.

Setelah kembali menunaikan ibadah haji Ratu Rarasantang diberi nama Hj Syarifah Mudaim sedangkan raja khute berganti nama H. Somadullah, dan mempunyai anak Syehk Syarif Hidayatullah. Sunan gunung jati, yang menyebarkan Islam di daerah Pantura Cirebon.




Usai pembacaan Babad Cirebon, keluarga Kesultanan Kanoman akan melakukan ziarah dan berdoa ke Gunung Jati dengan berjalan kaki dengan dipimpin oleh Pangeran Patih Raja Mohamad Qadiran yang menaiki Kereta Pusaka Paksi Nagaliman dan didampingi oleh Prajurit Kemantren juga Magersari atau masyarakat.(CB-003)