CIREBON BRIBON - Industri perhotelan di Kota Cirebon menghadapi tantangan di tengah meningkatnya persaingan bisnis akomodasi.
Pembangunan hotel baru terus berlangsung, sementara tingkat hunian kamar belum merata, terutama di luar periode akhir pekan dan hari libur.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon, Samiran, mengatakan bertambahnya pasokan akomodasi akan meningkatkan persaingan di industri perhotelan.
“Memang di Kota Cirebon ada muncul beberapa hotel baru yang sedang tahap pembangunan. Tentu ini akan menambah persaingan dalam bisnis akomodasi di Kota Cirebon,” kata Samiran saat merilis Berita Resmi Statistik, 1 September 2026, yang disiarkan melalui kanal YouTube BPS Kota Cirebon.
Tekanan terhadap industri hotel juga terlihat dari pergerakan wisatawan nusantara (Wisnus). BPS mencatat perjalanan Wisnus di Kota Cirebon pada Juli 2026 mencapai 238,24 ribu perjalanan.
Angka tersebut turun 7,73 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan Juli 2025. Secara bulanan, jumlah perjalanan juga turun 5,7 persen dibandingkan Juni 2026.
“Artinya bahwa persaingan yang terjadi, kondisi harga yang belum stabil, kondisi ekonomi ini mempengaruhi pergerakan masyarakat untuk melakukan wisata di luar daerah,” ujar Samiran.
BPS menggunakan mobile positioning data untuk menghitung mobilitas wisatawan nusantara.
Data tersebut diperoleh dari pergerakan telepon seluler masyarakat yang kemudian digunakan sebagai dasar dalam mengidentifikasi perjalanan wisata.
Secara kumulatif, sepanjang Januari-Juli 2026, jumlah perjalanan Wisnus di Kota Cirebon mencapai sekitar 1,7 juta perjalanan.
Jumlah tersebut turun 3,38 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai sekitar 1,8 juta perjalanan.
“Kalau sebelumnya Januari sampai dengan Juli 2025 itu ada 1,8 juta perjalanan wisatawan nusantara,” kata Samiran.
Menurut BPS, selisih tersebut memang relatif tidak besar. Namun, penurunan secara kumulatif menjadi sinyal yang perlu diperhatikan karena menunjukkan adanya pelemahan mobilitas wisatawan ke Kota Cirebon.
Tekanan terhadap sektor pariwisata turut tercermin dari tingkat hunian hotel. BPS mencatat tingkat okupansi hotel di Kota Cirebon pada Juli 2026 hanya mencapai 45,09 persen.
“Artinya kalau dari 100 kamar yang tersedia, yang terisi hanya 45 sampai 46. Ini kondisinya, jadi masih banyak kamar yang tidak terisi,” ujar Samiran.
Data okupansi tersebut merupakan gabungan dari hotel berbintang dan hotel nonbintang.
Dibandingkan Juni 2026, tingkat okupansi pada Juli mengalami penurunan 3,38 poin. Secara tahunan, tingkat hunian hotel juga tercatat mengalami penurunan. (CB-005)
Informasi lainnya :