| Masyarakat bertransaksi di Mol Pangling. |
CIREBON BRIBIN - Mobil Pangan Keliling atau Mol Pangling semakin mendapat perhatian masyarakat Kota Cirebon.
Sejak diluncurkan bulan Juni 2026, permintaan terhadap Mol Pangling disebut terus meningkat.
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Cirebon bahkan telah menyusun jadwal kunjungan secara rutin ke berbagai kelurahan.
“Minimal seminggu sekali mobilnya sudah berkeliling,” kata Kepala DKPPP Kota Cirebon, Elmi Masruroh kepada Cirebon Bribin, Selasa, 1 September 2026.
Dalam beberapa waktu terakhir, Mol Pangling bahkan dapat hadir beberapa kali dalam satu pekan. Lokasinya antara lain Kalitanjung dan kawasan Gua Sunyaragi.
Elmi melihat Mol Pangling masih memiliki ruang untuk dikembangkan.
Namun, pengembangan program masih menghadapi kendala sumber daya manusia.
Keterbatasan personel membuat pelaksanaan pada hari libur belum selalu dapat diakomodasi.
“Kalau saya inginnya kegiatan GPM ini bisa lebih masif lagi. Tetapi karena ini kolaborasi dengan Bulog, kadang ada keterbatasan sumber daya manusia, terutama pada hari libur,” ujarnya.
Elmi mengatakan, gagasan Mol Pangling muncul dari evaluasi terhadap pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) reguler.
Menurutnya, GPM berskala besar membutuhkan lokasi yang luas, anggaran relatif besar dan persiapan yang lebih kompleks.
Kondisi tersebut membuat jangkauannya tidak selalu bisa mencakup seluruh wilayah kota.
“Kami berpikir harus menghadirkan GPM yang minimalis. Jadi, bisa menjangkau seluruh pelosok Kota Cirebon,” kata Elmi
Melalui konsep tersebut, Mol Pangling dapat bergerak mendatangi masyarakat.
Model ini sekaligus memungkinkan pelaksanaan kegiatan pangan murah berdasarkan kebutuhan dan permintaan warga.
Elmi menjelaskan Mol Pangling merupakan hasil kolaborasi sejumlah institusi. DKPPP berperan sebagai pengelola sekaligus regulator kegiatan.
Sementara kendaraan yang digunakan merupakan mobil milik Bulog. Adapun proses branding kendaraan dilakukan Bank Indonesia.
“Untuk Mol Pangling ini sama sekali tidak memakai anggaran APBD,” ujar Elmi.
Komoditas pangan yang dijual juga berasal dari Bulog. Karena itu, pelaksanaan program mengandalkan sinergi antara DKPPP dan Bulog yang terkoordinasi di bawah naungan TPID Kota Cirebon.
Komoditas yang tersedia antara lain beras SPHP, gula pasir, minyak goreng, tepung dan telur.
DKPPP juga membuka ruang kolaborasi dengan kelompok tani maupun kelompok wanita tani (KWT).
Hasil pertanian masyarakat seperti sayuran dapat ikut dipasarkan melalui Mol Pangling.
Skema tersebut membuat kendaraan pangan murah tidak hanya berfungsi sebagai sarana distribusi, tetapi juga berpotensi menjadi kanal pemasaran produk pangan lokal.
Selain berdasarkan jadwal, masyarakat juga dapat mengajukan permintaan pelaksanaan Mol Pangling.
Permintaan tersebut dapat disampaikan secara resmi kepada DKPPP untuk kemudian diakomodasi sesuai kesiapan. (CB-005)
Informasi lainnya :