CIREBON BRIBIN - Kawasan pesisir Kota Cirebon mulai diarahkan menjadi salah satu lokus strategis pengembangan investasi melalui konsep Cirebon Waterfront City.
Peluang tersebut ditampilkan dalam Si-Ceppot Invest, platform digital resmi Pemerintah Kota Cirebon yang menyediakan informasi mengenai potensi dan peluang investasi di daerah.
Si-Ceppot merupakan singkatan dari Sistem Informasi Cepat Peta Potensi Investasi. Platform ini dirancang untuk membantu pelaku usaha dan calon investor memperoleh informasi mengenai peluang investasi di Kota Cirebon secara akurat, transparan, dan terkini.
Dikutip dari laman siceppot.cirebonkota.go.id pada Selasa, 29 September 2026, dalam pemetaan tersebut, Cirebon Waterfront City tidak sekadar diposisikan sebagai proyek penataan kawasan pesisir.
Konsep ini diarahkan untuk mengintegrasikan fungsi perdagangan, jasa, transportasi, pariwisata, sosial, budaya, hingga ruang publik dalam satu kawasan berbasis perairan.
Konsep desain Cirebon Waterfront City dibagi menjadi tiga zona, yakni Zona A, Zona B, dan Zona C. Masing-masing zona dirancang dengan fungsi dan fasilitas yang berbeda.
Zona A direncanakan dilengkapi masjid, akses jalan, serta rumah susun.
Sementara Zona B memiliki cakupan fasilitas yang lebih beragam. Di dalamnya direncanakan terdapat gedung atau pusat olahraga, hutan kota, waduk buatan atau embung, pusat kajian pengembangan mangrove, jembatan penyeberangan orang, hingga tempat pemberhentian bus.
Adapun Zona C diarahkan untuk memperkuat fungsi pariwisata dan ekonomi. Fasilitas yang direncanakan mencakup masjid, hotel atau resort, wisata mangrove, pusat perbelanjaan, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Kawasan pesisir Kota Cirebon yang masuk dalam Sub BWP A dan BWP B memiliki tema pengembangan Cirebon Transit Oriented Development, Cirebon Port, Fishery and Cultural Heritage.
Tema tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan karakter kawasan pesisir Cirebon. Keberadaan laut, aktivitas perdagangan dan jasa, kegiatan ekonomi, serta potensi sosial dan budaya menjadi modal pengembangan kawasan.
Pemerintah Kota Cirebon menempatkan konsep Waterfront City sebagai bagian dari upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan New Urban Agenda.
Konsep tersebut juga diarahkan untuk melengkapi pembangunan Cirebon Smart City.
Konsep kota yang berkembang dengan orientasi terhadap perairan bukan hal baru di Indonesia. Sejumlah kota telah memiliki kawasan waterfront dengan karakter masing-masing.
1. Palembang
Palembang memiliki hubungan kuat dengan Sungai Musi. Kawasan tepian sungai menjadi bagian dari identitas kota sekaligus ruang aktivitas ekonomi, transportasi, pariwisata, dan sosial masyarakat.
2. Banjarmasin
Banjarmasin dikenal sebagai Kota Seribu Sungai. Jaringan sungai menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, termasuk aktivitas perdagangan dan pariwisata. Karakter ini menjadikan sungai sebagai elemen utama dalam perkembangan kota.
3. Makassar
Makassar memiliki garis pantai yang menjadi bagian penting dari aktivitas perkotaan. Kawasan Pantai Losari merupakan contoh ruang publik yang mengintegrasikan fungsi wisata, sosial, kuliner, dan rekreasi di tepian laut.
4. Semarang
Semarang memiliki kawasan pesisir yang berkaitan erat dengan aktivitas pelabuhan, perdagangan, dan sejarah kota. Pengembangan waterfront di kota ini sekaligus menghadapi tantangan rob dan persoalan lingkungan pesisir.
5. Jakarta
Jakarta memiliki kawasan pesisir yang berkembang sebagai pusat ekonomi, perdagangan, permukiman, dan aktivitas pelabuhan. Pengembangan kawasan waterfront di ibu kota juga berkaitan dengan persoalan banjir, rob, dan ketahanan kawasan pesisir.
Lima kota tersebut memperlihatkan bahwa waterfront city memiliki model pengembangan yang berbeda. Ada yang bertumpu pada sungai, pesisir, pelabuhan, pariwisata, maupun kombinasi berbagai fungsi perkotaan. (CB-005)
Informasi lainnya :
