![]() |
| Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty (tengah) memberikan keterangan terkait KLB campak di Kota Cirebon, Rabu (15/4/2026). |
KESAMBI (CIREBON BRIBIN) - Kota Cirebon menjadi salah satu daerah di Jawa Barat yang berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) campak.
Peningkatan kasus campak di Kota Cirebon sendiri ditengarai salah satunya karena rendahnya status imunisasi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty menyampaikan, KLB campak saat ini memang sedang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Di Jawa Barat khususnya, ada 9 daerah yang berstatus KLB campak, termasuk Kota Cirebon.
"Untuk Kota Cirebon itu di tanggal 20 Februari 2026 sesudah dilakukan kajian epidemologi dan beberapa tahapan sebelum ditetapkan KLB Campak. Jadi memang kondisinya saat ini campak masih terus berjalan," kata Maria di kantornya pada Rabu lalu.
Menurut Maria, kasus campak di Kota Cirebon mayoritas menyerang mereka yang belum mendapatkan imunisasi campak lengkap.
"Mayoritas yang kena ini yang belum imunisasi campak maka dari itu terjadilah peningkatan kasus campak di Kota Cirebon," ujarnya.
Ia mengakui, sejak kasus Covid-19, imunisasi campak memang menurun.
Ditambah lagi dengan beredarnya informasi yang salah di sosial media sehingga membuat orang tua enggan memberikan imunisasi untuk anaknya sehingga menurunkan status imunisasi.
Padahal menurutnya, imunisasi itu sangat penting dan menjadi faktor yang paling menentukan untuk mencapai kekebalan komunitas.
Terkait peningkatan kasus campak di Kota Cirebon sendiri menurutnya terjadi sejak akhir tahun lalu.
Menurutnya, sebelum ditetapkan KLB campak, pihaknya telah merespon peningkatan kasus mulai dari memberikan edaran, survei cepat komunitas hingga melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI).
"Jadi kami sudah melakukan upaya imunisasi secara menyeluruh kepada sasarannya yang dimulai dari 9 bulan hingga 13 tahun baik di sekolah, puskesmas, posyandu hingga beberapa tempat yang telah disepakati tanpa memandang status imunisasi," ujarnya.
Meski menurutnya upaya imunisasi yang ditargetkan mencapai 95 persen komunitas belum tercapai sepenuhnya dan baru mencapai 94,8 persen.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat bila menemukan atau mengalami gelaja campak, segera untuk memeriksakan diri ke Puskesmas atau klinik.
Terpisah, Dokter spesialis anak RSD Gunung Jati Kota Cirebon, dr. Suci Saptyuni, Sp.A juga mengingatkan kepada masyarakat agar jangan menyepelekan imunisasi yang lengkap untuk meminimalkan resiko akibat campak.
Imunisasi campak yang lengkap, disebutkan Suci diberikan dalam 3 tahapan mulai dari usia 9 bulan, 18 bulan dan tambahan pada usia antara 5 hingga 7 tahun.
"Ya, 3 kali. 2 kali dasar kemudian tambahan di SD. Kalau disekolah ada vaksin ya diantara 5-7 tahun, itu BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) tuh, diantaranya campak," ujarnya. (CB-003)
Informasi lainnya :
