BRIBIN NEWS (CIREBON)— Basis budaya dinilai harus menjadi fondasi utama dalam pembangunan daerah yang berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Bambang Mujiarto, saat melakukan kunjungan kerja di Trusmi Wetan, Kabupaten Cirebon, Kamis (26/03).
Dalam kunjungan tersebut, Bambang menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan tidak hanya sebatas pengawasan terhadap jalannya pemerintahan daerah, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya melalui program “Ngaji Budaya”.
“Kunjungan hari ini merupakan titik ke-13 dari total 40 kecamatan yang akan kami datangi. Salah satu tujuannya adalah membedah kembali budaya Cirebon melalui pendekatan Ngaji Budaya,” ujarnya.
Menurutnya, upaya mengangkat kembali nilai-nilai budaya lokal menjadi pekerjaan rumah besar, khususnya bagi Cirebon yang memiliki sejarah panjang peradaban. Ia menilai, kekayaan sejarah tersebut dapat menjadi sumber gagasan dalam merancang pembangunan daerah yang berkarakter.
“Cirebon memiliki story yang kuat dan tidak kalah dengan daerah lain. Dari situlah gagasan pembangunan bisa lahir, dengan menjadikan budaya sebagai dasar kebijakan,” katanya.
Ia menambahkan, pembangunan yang berakar pada budaya diyakini mampu mengembalikan identitas kejayaan masa lalu. Cirebon sendiri dikenal memiliki konsep pembangunan maritim sejak dahulu, seperti kawasan Muara Jati yang menjadi pusat perdagangan dan interaksi internasional.
Selain itu, kekayaan kultur budaya di Cirebon dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar jika dikelola secara terintegrasi. Menurut Bambang, penguatan sektor budaya dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan, seperti kemiskinan, kesenjangan, dan pengangguran.
“Tanpa sinergitas dan masih adanya ego sektoral, penyelesaian masalah akan terhambat. Namun jika dilakukan secara gotong royong, maka akan muncul terobosan dan solusi yang lebih cepat,” tegasnya.
Bambang juga menyoroti tantangan generasi muda di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang dinilai dapat memengaruhi pola pikir serta identitas budaya.
Ia menegaskan bahwa perubahan zaman tidak bisa dihindari, namun menjaga jati diri budaya menjadi tantangan terbesar. Oleh karena itu, kegiatan masyarakat berbasis budaya di tingkat desa perlu terus didorong sebagai upaya menjaga identitas tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa budaya kerap menjadi pintu masuk berbagai pengaruh global, sehingga diperlukan kesadaran bersama untuk menjaga nilai-nilai lokal agar tidak sekadar menjadi pasar bagi pihak luar.
“Refleksi melalui kegiatan budaya di masyarakat pedesaan bisa menjadi cara untuk mengembalikan jati diri yang mulai terkikis,” pungkasnya. (CB-004)
Informasi lainnya :
